Laman

Jumat, 13 April 2012

Laba Menggiurkan Dari Lele


Lele adalah salah satu ikan konsumsi favorit bagi bangsa indonesia. Kita akan dengan mudah menemukan ikan ini di pasar tradisional maupun pasar-pasar modern. Hasil olahan lele dengan mudah kita jumpai di warung-warung makan di pinggir jalan bahkan di pusat perbelanjaan. Permintaan akan lele hampir tidak terbatas jumlahnya. Ada tiga jenis segmentasi usaha yang berhubungan dengan lele, yaitu :
1.       Pembenihan lele
2.      Pembesaran lele
3.      Pengolahan lele
Kali ini kita akan membahas tentang prospek usaha pembesaran lele sebagai salah satu penambah referensi usaha anda.

PERSIAPAN
Dalam melakukan usaha pembesaran lele ini hal yang patut diperhatikan adalah lokasi usaha. Berbagai aspek yang patut anda perhatikan adalah :
1.       Aspek ekonomi : lokasi usaha anda harus mudah dijangkau oleh konsumen. Maksudnya lokasi anda harus dekat dengan pasar untuk menjual hasil produksi serta kemudahan akses transportasi dalam mengirim barang.
2.      Aspek sosial : sebaiknya memilih  lokasi usaha yang memiliki kedekatan dengan usaha anda. Anda dapat memilih lokasi usaha di mana penduduk sekitar memiliki bidang usaha mirip dengan anda. Anda harus dapat menjalin komunikasi yang baik dengan penduduk sekitar kalau perlu merekrut tenaga kerja penduduk lokal. Jika ada hubungan timbal balik yang baik antara usaha anda dengan penduduk maka keamanan usaha anda akan terjamin dari gangguan yang mungkin terjadi.
3.      Aspek teknis : anda dapat memilih lokasi yang terjamin pasokan airnya sepanjang tahun. Hal ini sangat penting untuk menjamin keberlangsungan usaha anda. Jika perlu berkonsultasilah dengan tenaga teknis yang berkompeten di bidangnya untuk mengontrol usaha ini jika anda masih awam dalam bidang ini.
Anda perlu memperhatikan kualitas air dan tanah ( jika menggunakan kolam tanah ). Lele tidak memerlukan terlalu tinggi kadar oksigen terlarut untuk hidup sehingga tidak membutuhkan kolam berarus deras. Lele memiliki alat pernapasan tambahan berupa labirinth hingga lele bisa mengambil oksigen dari udara bebas. Langkah selanjutnya adalah pemilihan bibit lele untuk usaha anda.

Pemilihan Bibit
Jenis lele yang cocok untuk pembesaran adalah lele dumbo. Lele ini merupakan hasil persilangan antara lele taiwan dan lele Afrika. Lele dumbo merupakan salah satu jenis yang memiliki pertumbuhan cepat. Ada anggapan bahwa lele dumbo kurang enak untuk dimakan tetapi hal ini dapat disiasati dengan menjual lele yang berukuran tidak terlalu besar hingga tidak ada perbedaan antara lele lokal dan lele dumbo. Benih yang akan dipelihara dipilih yang berukuran 7-9 cm. Sebaiknya memilih bibit yang ukurannya seragam agar tidak terjadi ketimpangan dalam kompetisi berebut pakan. Harga benih lele seukuran ini berkisar antara 100-125 rupiah tergantung lokasi, cuaca, dan kuantitas.

Persiapan Kolam
Pemilihan kolam merupakan salah satu aspek penting bisnis ini. Ada berbagai pilihan yang dapat anda pertimbangkan untuk membangun kolam lele. Pilihan kolam harus sesuai dengan modal dan tujuan anda untuk berbisnis. Jika anda ingin usaha ini sebagai usaha sampingan di rumah. Jika anda ingin membudidayakan lele dengan volume tinggi kolam tanah salah satu alternatif. Jika anda ingin usaha ini permanen dan mempunyai modal besar maka kolam beton dapat anda pertimbangkan. Karena terbatasnya space maka kita akan bahas tentang kolam terpal.
Kolam terpal                                                                                                 
Kolam ini sangat mudah dibuat dan minim modal. Kolam terpal juga sangat fleksibel sehingga mudah dibongkar pasang dan disesuaikan ukurannya. Kolam terpal dibuat dari rangkaian batang bambu yang dibentuk persegi menyerupai kolam. Rangka bambu tadi kemudian diselimuti oleh terpal yang berguna sebagai penahan air. Setelah itu kolam terpal dibuatkan saluran air untuk keluar masuk air yang terbuat dari pipa paralon. Setelah itu cuci kolam dengan air bersih kemudian jemur hingga kering. Masukkan air dengan ketinggian 60-80 cm diamkan 2-3 hari. Setelah tiga hari benih lele dapat ditebarkan ke dalam kolam. Penggantian air dapat dilakukan 2-3 kali seminggu. Jumlah bibit yang ditebarkan harus disesuaikan dengan ukuran kolam. Idealnya 100-200 ekor/m2  jika luas kolam yang anda buat seluas 100 m2 maka benih yang ditebar sejumlah 10.000-20.000 ekor.

Pemberian pakan
Pakan utama untuk lele untuk pembesaran adalah pelet. Pelet khusus lele biasanya dibuat khusus sesuai kebutuhan lele sehingga kita tidak perlu khawatir akan kandungan nutrisinya. Harga pasaran pelet lele per kg adalah Rp.6000,00 . Jika kita menebar benih sebanyak 1000 ekor maka jumlah pakan yang dibutuhkan di setiap periode pembesaran sebanyak 100 kg. Pakan ini diberikan setiap hari sejumlah 1 kg dengan ditebar ke kolam lele. Untuk mengurangi biaya pakan serta mempercepat pertumbuhan dapat ditambahkan pakan tambahan berupa dedak halus, keong mas, ampas rumah tangga maupun ikan rucah.

Pemanenan
Lele dapat dipanen setelah 3- 3,5 bulan. Lele yang dihasilkan adalah lele ukuran 8-10 ekor/kg yang sangat digemari masyarakat. Volume panen yang kita dapatkan jika menggunakan lahan 100 m2  dengan kepadatan tebar 20.000 ekor berkisar 2 ton  lele segar siap panen.

Analisis Usaha
Dengan asumsi penggunaan kolam terpal, luas kolam 100 m2 , lahan milik sendiri, serta jumlah tebar bibit 20.000 ekor maka laba yang dapat dihasilkan adalah :
Biaya total : Benih lele x 20.000 x 125 =             Rp 2.500.000
Pakan x 2000 kg x 6000  =             Rp 12.000.000
Pembuatan kolam              =             Rp 500.000
Total                                                   Rp 15.000.000
Penerimaan : 2000 kg x 10.000              =            Rp.20.000.000
Laba             : 20.000.0000 – 15.000.000                          Rp 5.000.000

Sesuai analisis di atas maka usaha pembesaran lele layak untuk anda kembangkan sebagai usaha untuk peningkatan taraf hidup. Kemudahan pemasaran dari lele serta pasar yang tak terbatas dapat anda pertimbangkan sebagai alasan memilih bisnis ini.Namun semua ini percuma jika anda tidak memiliki modal usaha. Kami memberikan sedikit solusi bagi anda untuk memperoleh modal untuk menjalankan usaha ini.

Budidaya Lele Sangkuriang


Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air Tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan 1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah dan 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.

Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit.

Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas. Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah. Penurunan kualitas ini dapat diamati dari karakter umum pertama matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit dan nilai FCR (Feeding Conversion Rate).

Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo BBAT Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk menghasilkan lele dumbo strain baru yang diberi nama lele Sangkuriang.

Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele Sangkuriang tergolong omnivora. Di alam ataupun lingkungan budidaya, ia dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Untuk usaha budidaya, penggunaan pakan komersil (pellet) sangat dianjurkan karena berpengaruh besar terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas.

Tujuan pembuatan Petunjuk Teknis ini adalah untuk memberikan cara dan teknik pemeliharaan ikan lele dumbo strain Sangkuriang yang dilakukan dalam rangka peningkatan produksi Perikanan untuk meningkatkan ketersediaan protein hewani dan tingkat konsumsi ikan bagi masyarakat Indonesia.

Berdasarkan keunggulan lele dumbo hasil perbaikan mutu dan sediaan induk yang ada di BBAT Sukabumi, maka lele dumbo tersebut layak untuk dijadikan induk dasar yaitu induk yang dilepas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dan telah dilakukan diseminasi kepada instansi/pembudidaya yang memerlukan. Induk lele dumbo hasil perbaikan ini, diberi nama Lele Sangkuriang. Induk lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6). Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. Induk dasar yang didiseminasikan dihasilkan dari silang balik tahap kedua antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan hasil silang balik tahap pertama (F2 6).

Budidaya lele Sangkuriang dapat dilakukan di areal dengan ketinggian 1 m - 800 m dpi. Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik, artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air budidaya masih tetap dapat dilakukan pada lahan yang memiliki ketinggian diatas >800 m dpi. Namun bila budidaya dikembangkan dalam skala massal harus tetap memperhatikan tata ruang dan lingkungan sosial sekitarnya artinya kawasan budidaya yang dikembangkan sejalan dengan kebijakan yang dilakukan Pemda setempat.

Budidaya lele, baik kegiatan pembenihan maupun pembesaran dapat dilakukan di kolam tanah, bak tembok atau bak plastik. Budidaya di bak tembok dan bak plastik dapat memanfaatkan lahan pekarangan ataupun lahan marjinal lainnya.

Sumber air dapat menggunakan aliran irigasi, air sumu (air permukaan atau sumur dalam), ataupun air hujan yan sudah dikondisikan terlebih dulu. Parameter kualitas air yan baik untuk pemeliharaan ikan lele sangkuriang adalah sebagai berikut:

1. Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22-32°C. Suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air.
2. pH air yang ideal berkisar antara 6-9.
3. Oksigen terlarut di dalam air harus > 1 mg/l.

Budidaya ikan lele Sangkuriang dapat dilakukan dalam bak plastik, bak tembok atau kolam tanah. Dalam budidaya ikan lele di kolam yang perlu diperhatikan adalah pembuatan kolam, pembuatan pintu pemasukan dan pengeluaran air.

Bentuk kolam yang ideal untuk pemeliharaan ikan lele adalah empat persegi panjang dengan ukuran 100-500 m2. Kedalaman kolam berkisar antara 1,0-1,5 m dengan kemiringan kolam dari pemasukan air ke pembuangan 0,5%. Pada bagian tengah dasar kolam dibuat parit (kamalir) yang memanjang dari pemasukan air ke pengeluaran air (monik). Parit dibuat selebar 30-50 cm dengan kedalaman 10-15 cm.

Sebaiknya pintu pemasukan dan pengeluaran air berukuran antara 15-20 cm. Pintu pengeluaran dapat berupa monik atau siphon. Monik terbuat dari semen atau tembok yang terdiri dari dua bagian yaitu bagian kotak dan pipa pengeluaran. Pada bagian kotak dipasang papan penyekat terdiri dari dua lapis yang diantaranya diisi dengan tanah dan satu lapis saringan. Tinggi papan disesuaikan dengan tinggi air yang dikehendaki. Sedangkan pengeluaran air yang berupa siphon lebih sederhana, yaitu hanya terdiri dari pipa paralon yang terpasang didasar kolam dibawah pematang dengan bantuan pipa berbentuk L mencuat ke atas sesuai dengan ketinggian air kolam.

Saringan dapat dipasang pada pintu pemasukan dan pengeluaran agar ikan-ikan jangan ada yang lolos keluar/masuk.


Pelaksanaan Budidaya

Sebelum benih ikan lele ditebarkan di kolam pembesaran, yang perlu diperhatikan adalah tentang kesiapan kolam meliputi:

a. Persiapan kolam tanah (tradisional)

Pengolahan dasar kolam yang terdiri dari pencangkulan atau pembajakan tanah dasar kolam dan meratakannya. Dinding kolam diperkeras dengan memukul-mukulnya dengan menggunakan balok kayu agar keras dan padat supaya tidak terjadi kebocoran. Pemopokan pematang untuk kolam tanah (menutupi bagian-bagian kolam yang bocor).
Untuk tempat berlindung ikan (benih ikan lele) sekaligus mempermudah pemanenan maka dibuat parit/kamalir dan kubangan (bak untuk pemanenan).

Memberikan kapur ke dalam kolam yang bertujuan untuk memberantas hama, penyakit dan memperbaiki kualitas tanah. Dosis yang dianjurkan adalah 20-200 gram/m2, tergantung pada keasaman kolam. Untuk kolam dengan pH rendah dapat diberikan kapur lebih banyak, juga sebaliknya apabila tanah sudah cukup baik, pemberian kapur dapat dilakukan sekedar untuk memberantas hama penyakit yang kemungkinan terdapat di kolam.

Pemupukan dengan kotoran ternak ayam, berkisar antara 500-700 gram/m2; urea 15 gram/m2; SP3 10 gram/m2; NH4N03 15 gram/m2.
Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang penyaring
Kemudian dilakukan pengisian air kolam.
Kolam dibiarkan selama ± 7 (tujuh) hari, guna memberi kesempatan tumbuhnya makanan alami.


b. Persiapan kolam tembok

Persiapan kolam tembok hampir sama dengan kolam tanah. Bedanya, pada kolam tembok tidak dilakukan pengolahan dasar kolam, perbaikan parit dan bak untuk panen, karena parit dan bak untuk panen biasanya sudah dibuat Permanen.


c. Penebaran Benih

Sebelum benih ditebarkan sebaiknya benih disuci hamakan dulu dengan merendamnya didalam larutan KM5N04 (Kalium permanganat) atau PK dengan dosis 35 gram/m2 selama 24 jam atau formalin dengan dosis 25 mg/l selama 5-10 menit.
Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada saat udara tidak panas. Sebelum ditebarkan ke kolam, benih diaklimatisasi dulu (perlakuan penyesuaian suhu) dengan cara memasukan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam wadah pengangkut benih. Benih yang sudah teraklimatisasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan yang baru yaitu kolam. Hal ini berarti bahwa perlakuan tersebut dilaksanakan diatas permukaan air kolam dimana wadah (kantong) benih mengapung diatas air. Jumlah benih yang ditebar 35-50 ekor/m2 yang berukuran 5-8 cm.


d. Pemberian Pakan

Selain makanan alami, untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele perlu pemberian makanan tambahan berupa pellet. Jumlah makanan yang diberikan sebanyak 2-5% perhari dari berat total ikan yang ditebarkan di kolam. Pemberian pakan frekuensinya 3-4 kali setiap hari. Sedangkan komposisi makanan buatan dapat dibuat dari campuran dedak halus dengan ikan rucah dengan perbandingan 1:9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, cincangan bekicot dengan perbandingan 2:1:1:1 campuran tersebut dapat dibuat bentuk pellet.


e. Pemanenan

Ikan lele Sangkuriang akan mencapai ukuran konsumsi setelah dibesarkan selama 130 hari, dengan bobot antara 200 - 250 gram per ekor dengan panjang 15 - 20 cm. Pemanenan dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam. Ikan lele akan berkumpul di kamalir dan kubangan, sehingga mudah ditangkap dengan menggunakan waring atau lambit. Cara lain penangkapan yaitu dengan menggunakan pipa ruas bambu atau pipa paralon/bambu diletakkan didasar kolam, pada waktu air kolam disurutkan, ikan lele akan masuk kedalam ruas bambu/paralon, maka dengan mudah ikan dapat ditangkap atau diangkat. Ikan lele hasil tangkapan dikumpulkan pada wadah berupa ayakan/happa yang dipasang di kolam yang airnya terus mengalir untuk diistirahatkan sebelum ikan-ikan tersebut diangkut untuk dipasarkan.

Pengangkutan ikan lele dapat dilakukan dengan menggunakan karamba, pikulan ikan atau jerigen plastik yang diperluas lubang permukaannya dan dengan jumlah air yang sedikit.


Proses Produksi pada kegiatan pembesaran disajikan Tabel 1.

Tabel 1
Proses pembesaran lele Sangkuriang di bak tembok.

Kriteria Satuan Pembesaran
Ukuran Tanaman
- Umur hari 40
- panjang cm 4 - 8
- bobot gram 4- 6
Ukuran Panen
- Umur hari 130
- panjang cm 15 - 20
- bobot gram 125 - 200
Sintasan % 80-90
Padat Tebar Ekor/m2 50-75
Pakan
- Tingkat Pemberian % bobot 3
- Frekuensi Pemberian kali/hari 3
Tingkat Konversi Pakan 0,8 - 1,2

Kegiatan budidaya lele Sangkuriang di tingkat pembudidaya sering dihadapkan pada permasalahan timbulnya penyakit atau kematian ikan. Pada kegiatan pembesaran, penyakit banyak ditimbulkan akibat buruknya penanganan kondisi lingkungan. Organisme predator yang biasanya menyerang antara lain ular dan belut. Sedangkan organisme pathogen yang sering menyerang adalah Ichthiophthirius sp., Trichodina sp., Monogenea sp. dan Dactylogyrus sp.

Penanggulangan hama insekta dapat dilakukan dengan pemberian insektisida yang direkomendasikan pada saat pengisian air sebelum benih ditanam. Sedangkan penanggulangan belut dapat dilakukan dengan pembersihan pematang kolam dan pemasangan plastik di sekeliling kolam.

Penanggulangan organisme pathogen dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan budidaya yang baik dan pemberian pakan yang teratur dan mencukupi. Pengobatan dapat menggunakan obat-obatan yang direkomendasikan.

Pengelolaan lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan persiapan kolam dengan baik. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan kolam tanah, persiapan kolam meliputi pengeringan, pembalikan tanah, perapihan pematang, pengapuran, pemupukan, pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan bak tembok atau bak plastik, persiapan kolam meliputi pengeringan, disenfeksi (bila diperlukan), pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Perbaikan kondisi air kolam dapat pula dilakukan dengan penambahan bahan probiotik.

Untuk menghindari terjadinya penularan penyakit, maka hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Pindahkan segera ikan yang memperlihatkan gejala sakit dan diobati secara terpisah. Ikan yang tampak telah parah sebaiknya dimusnahkan.
2. Jangan membuang air bekas ikan sakit ke saluran air.
3. Kolam yang telah terjangkit harus segera dikeringkan dan dilakukan pengapuran dengan dosis 1 kg/5 m2. Kapur (CaO) ditebarkan merata didasar kolam, kolam dibiarkan sampai tanah kolam retak-retak.
4. Kurangi kepadatan ikan di kolam yang terserang penyakit.
5. Alat tangkap dan wadah ikan harus dijaga agar tidak terkontaminasi penyakit. 5. Sebelum dipakai lagi sebaiknya dicelup dulu dalam larutan Kalium Permanganat (PK) 20 ppm (1 gram dalam 50 liter air) atau larutan kaporit 0,5 ppm (0,5 gram dalam 1 m3 air).
6. Setelah memegang ikan sakit cucilah tangan kita dengan larutan PK
7. Bersihkan selalu dasar kolam dari lumpur dan sisa bahan organik
8. Usahakan agar kolam selalu mendapatkan air segar atau air baru.

Tingkatkan gizi makanan ikan dengan menambah vitamin untuk menambah daya tahan ikan.


ANALISA USAHA

Pembesaran lele Sangkuriang di bak plastik

1. Investasi

a. Sewa lahan 1 tahun @ Rp 1.000.000,- = Rp 1.000.000,-
b. Bak kayu lapis plastik 3 unit @ Rp 500.000,- = Rp 1.500.000,-
c. Drum plastik 5 buah @ Rp 150.000,- = Rp 750.000,-
Rp 3.250.000,-

2. Biaya Tetap

a. Penyusutan lahan Rp 1.000.000,-/1 thn = Rp 1.000.000,-
b. Penyusutan bak kayu lapis plastik Rp 1.500.000,-/2 thn = Rp 750.000,-
c. Penyusutan drum plastik Rp 750.000,-/5 thn = Rp 150.000,-
Rp 1.900.000,-

3. Biaya Variabel

a. Pakan 4800 kg @ Rp 3700 = Rp 17.760.000,-
b. Benih ukuran 5-8 cm sebanyak 25.263 ekor @ Rp 80,- = Rp 2.021.052,63
c. Obat-obatan 6 unit @ Rp 50.000,- = Rp 300.000,-
d. Alat perikanan 2 paket @ Rp 100.000,- = Rp 200.000,-
e. Tenaga kerja tetap 12 OB @ Rp 250.000,- = Rp 3.000.000,-
f. Lain-lain 12 bin @ Rp 100.000,- = Rp 1.200.000,-
Rp 24.281.052,63

4. Total Biaya

Biaya Tetap + Biaya Variabel
= Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63
= Rp 26.181.052,63

5. Produksi lele konsumsi 4800 kg x Rp 6000/kg -Rp 28.800.000,

6. Pendapatan

Produksi - (Biaya tetap + Biaya Variabel)
= Rp 28.800.000,- - ( Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63)
= Rp 2.418.947,37

7. Break Event Point (BEP)

Volume produksi = 4.396,84 kg
Harga produksi = Rp 5.496,05

ANALISA USAHA LELE


ANALISA USAHA
Pembesaran lele Sangkuriang di bak plastik
1.
Investasi

a.
Sewa lahan 1 tahun @ Rp 1.000.000,-
=
Rp
1.000.000,-

b.
Bak kayu lapis plastik 3 unit @ Rp 500.000,-
=
Rp
1.500.000,-

c.
Drum plastik 5 buah @ Rp 150.000,-
=
Rp
750.000,-




Rp
3.250.000,-
2.
Biaya Tetap

a.
Penyusutan lahan Rp 1.000.000,-/1 thn
=
Rp
1.000.000,-

b.
Penyusutan bak kayu lapis plastik Rp 1.500.000,-/2 thn
=
Rp
750.000,-

c.
Penyusutan drum plastik Rp 750.000,-/5 thn
=
Rp
150.000,-




Rp
1.900.000,-
3.
Biaya Variabel




a.
Pakan 4800 kg @ Rp 3700
=
Rp
17.760.000,-

b.
Benih ukuran 5-8 cm sebanyak 25.263 ekor @ Rp 80,-
=
Rp
2.021.052,63

c.
Obat-obatan 6 unit @ Rp 50.000,-
=
Rp
300.000,-

d.
Alat perikanan 2 paket @ Rp 100.000,-
=
Rp
200.000,-

e.
Tenaga kerja tetap 12 OB @ Rp 250.000,-
=
Rp
3.000.000,-

f.
Lain-lain 12 bin @ Rp 100.000,-
=
Rp
1.200.000,-




Rp
24.281.052,63
4.
Total Biaya

Rp
26.181.052,63





5.
Pendapatan

Rp
28.800.000,00

Produksi lele konsumsi 4800 kg x Rp 6000/kg -,



6.
KEUNTUNGAN

Rp
2.418.947,37
7.
Break Event Point (BEP)




Volume produksi
=
4.396,84 kg

Harga produksi
=
Rp 5.496,05








Sumber :Buku Budidaya Lele Sangkuriang, Dit. Pembudidayaan, Ditjen Perikanan Budidaya